Dibintangi Gunawan Maryanto, The Science of Fictions Tayang di Bioskop

Film The Science of Fictions atau Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah dalam Bahasa Indonesia akhirnya tayang di bioskop nasional mulai Kamis, 10 Desember 2020. Film yang diproduksi tahun 2018 silam ini disutradarai dan ditulis oleh Yosep Anggi Noen. Film ini dibintangi oleh Gunawan Maryanto, Ecky Lamoh, Yudi Ahmad Tajudin, Lukman Sardi, Rusini, Asmara Abigail, Alex Suhendra, dan Marissa Anita.

Hal ini disambut baik oleh para tim produksi dan aktor yang terlibat. Selama di bioskop, penonton tetap diwajibkan untuk mematuhi protokol kesehatan, memakai masker serta duduk berjarak. Pengalaman menonton di bioskop yang berubah sejak pandemi membuat mereka melihat film ini bisa menjadi harapan baru di industri perfilman Indonesia.

Mereka juga bacaini

“Senang banget akhirnya bisa nonton bioskop lagi setelah berbulan-bulan, saya sebagai penonton aja nonton di bioskop film saya sendiri,” kata Anggi dalam konferensi pers virtual pada Jumat, 11 Desember 2020. “Rasanya terenyuh, berkaca-kaca tapi tidak sampai menangis. Ada rasa bangga, lega, harapan yang besar sekali pada majunya perfilman Indonesia.”

The Science of Fictions dimulai kisahnya pada tahun 1960-an, di Gumuk Pasir Parangkusumo, Yogyakarta, Siman (diperankan oleh Gunawan Maryanto) melihat proses shooting pendaratan manusia di bulan oleh kru asing. Dia tertangkap penjaga dan dipotong lidahnya. Selama puluhan tahun, Siman bergerak pelan menirukan gerakan astronot di luar angkasa untuk membuktikan kebenaran pengalamannya. Siman dianggap gila.

Gunawan Maryanto saat menerima Piala Citra kategori Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2020. (Dok. Festival Film Indonesia)

Anggi terinspirasi dari pengalaman pribadinya ketika melihat sebuah lahan yang mirip dengan permukaan bulan di Parangkusumo, Bantul bernama Gumuk Pasir. Beragam kegiatan yang dilakukan di tempat tersebut membuatnya menarik perhatian Anggi. Di lahan yang cukup luas itu terdapat tempat karaoke, lokasi manasik haji, tempat persembahan kepada Ratu Laut Selatan, tempat ibadah, bahkan pada waktu-waktu tertentu ada praktek prostitusi terselubung di sana.

“Saya lalu berangkat dari bulan, bagaimana jika pendaratan manusia di bulan itu ternyata pengambilan gambarnya dilakukan di Gumuk Pasir?” kata Anggi. “Pendaratan di bulan sebagai keberhasilan yang dirayakan secara global dan politik yang manipulatif disaksikan oleh Siman, seorang petani biasa, manusia yang sederhana yang dibisukan.”

Karakter Siman yang unik ini membuat Gunawan tertarik memerankannya sekaligus menjadi tantangan tersendiri baginya. Sejak Anggi menawarkan karakter Siman kepadanya, Gunawan sudah merasa tertantang memerankan tokoh yang ia juluki sebagai astronot dari Bantul itu. “Ada banyak lapis-lapis emosi yang ada di Siman dan itu semakin mengeras ketika dia punya keterbatasan juga untuk menyuarakan apa yang berlangsung di dalam dirinya, pikirannya, dan perasannya,” kata Gunawan.

The Science of Fictions tayang perdana di Locarno Film Festival 2019 (Swiss) dan kemudian berkeliling ke 15 festival film internasional. Berbagai penghargaan yang telah didapatkan oleh The Science of Fictions antara lain, Piala Citra untuk Pemeran Utama Pria Terbaik yang diberikan kepada Gunawan Maryanto.

Di pengujung tahun lalu, film ini diganjar tiga gelar dari Tempo yaitu Film Pilihan Tempo, Sutradara Pilihan Tempo (Yosep Anggi Noen), dan Aktor Pilihan Tempo (Gunawan Maryanto). Di tempat pemutaran perdananya, film ini juga diberi Special Mention, 72 Locarno Film Festival, Concorso Internazionale, 2019. (Tempo)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on linkedin
LinkedIn

Berita Terkait