Gaprindo Dorong Pencegahan Perokok Anak

acehbaru.com| Jakarta-Merespon tren peningkatan angka prevalensi perokok anak di Indonesia, Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) meluncurkan kampanye bertajuk Cegah Perokok Anak: Aksi Kolaborasi Lindungi Anak di Bawah Umur dari Rokok yang dihadiri oleh beberapa perwakilan dari Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Rabu 16 Desember 2020 –

Gelaran kampanye ini dimulai pada akhir tahun dan akan terus berlangsung sampai beberapa bulan kedepan dengan beragam pendekatan seperti peluncuran situs dan pembuatan konten informasi www.cegahperokokanak.id; aksi pilot project edukasi peritel ke area padat penduduk di Jakarta, dan juga kolaborasi di sosial media.

Mereka juga bacaini

Gaprindo optimis pendekatan di atas bisa menjadi katalis positif untuk membangkitkan rasa tanggung jawab sosial di lingkungan masyarakat terkecil yakni keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar. Adapun edukasi ke peritel juga menjadi target utama Gaprindo, sebagai yang pihak berhubungan langsung dengan konsumen.

Kampanye ini diharapkan dapat membantu mempercepat target pemerintah dalam menekan angka perokok anak di Indonesia. Pasalnya, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional mencatat jumlah perokok anak usia 10 hingga 18 tahun di Indonesia terus meningkat dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 9,1 persen atau sekitar 3,2 juta anak pada 2018. Selain itu, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah menargetkan angka perokok anak dapat turun hingga 8,7 persen pada 2024.

“Semangat Gaprindo dalam menggelar kampanye ini didasari pada kepercayaan bahwa pencegahan perokok anak merupakan tanggung jawab dari seluruh elemen masyarakat. Diawali dengan peluncuran website, kita berharap kepekaan sosial bagi masyarakat dewasa dari lingkup terkecil yaitu keluarga, pedagang, dan lingkungan di sekitar anak dapat dibangun karena kita semua berperan dalam mengawasi, mencegah, dan mengedukasi risiko merokok di usia dini,” ungkap Ketua Gaprindo, Muhaimin Moeftie.

Kampanye pencegahan perokok anak yang diprakarsai oleh Gaprindo ini merupakan lanjutan dari kontribusi nyata Gaprindo yang telah dimulai sejak tahun 1999. Pada saat itu, Gaprindo bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan RI, pedagang ritel, hingga pelajar di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di lima kota besar di Indonesia. Terus mengupayakan inisiatif positif, kali ini program Cegah Perokok Anak oleh Gaprindo akan diperluas jangkauannya melalui pendekatan dengan pedagang hingga aktivitas pada media sosial.

“Pemanfaatan platform digital pada website dan media sosial dalam kampanye ini dilakukan untuk menyesuaikan target sasaran, karena orang tua, masyarakat, dan anak di bawah umur yang zaman sekarang sudah melek digital. Kemudian kita imbangi juga dengan kegiatan edukasi offline yang menyasar pedagang, baik tradisional dan juga ritel yang akan bersinergi bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) yang menaungi banyak peritel di Indonesia. Peran menyeluruh dari semua pihak diharapkan bisa menjadi garda terdepan untuk mendukung pencegahan perilaku merokok pada anak,” lanjut Moeftie.

Pada kesempatan tersebut, Moeftie juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berperan dalam kampanye ini agar mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka prevalensi perokok anak di Indonesia. “Kami berharap informasi yang kami sarikan pada website dapat dijadikan langkah awal bagi masyarakat untuk menambah wawasan dan berkomitmen dalam aksi pencegahan perokok anak,” tambah Moeftie.

Keyakinan kami pun bertambah karena kampanye ini kami lakukan juga bekerja sama dengan para pedagang yang memiliki peran kunci dalam membatasi akses dan peredaran produk rokok di kalangan anak. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APRINDO, Roy N. Mandey menjelaskan bahwa selama ini ritel modern telah menerapkan pembatasan pada pembeli rokok sebagai konsumen dengan menyediakan rak tertentu, umumnya di belakang kasir agar dapat mengetahui latar belakang usia pembeli.

“Tentunya kasir tidak akan mengizinkan jika ada anak yang berseragam sekolah tingkat SD hingga SMA membeli produk rokok. Termasuk kalau ada anak-anak yang diminta membeli rokok oleh orang tuanya, maka tidak akan diberikan. Ini merupakan semangat dari ritel modern dalam mencegah perokok anak. Aprindo mendukung gerakan cegah perokok anak karena kita concern dengan generasi muda kita yang sedang tumbuh dan berkembang. Kami siap berkoordinasi kepada stakeholder pada gerakan ini dan siap melakukan kampanye bersama,” pungkas Roy.

Penyelenggaraan Kampanye Cegah Perokok Anak juga disambut baik oleh perwakilan dari Kementerian Perindustrian. Pihaknya menyatakan bahwa pencegahan perokok anak yang tertera pada PP 109 Tahun 2012 perlu dilakukan secara konsisten.

“Tidak hanya itu, kita juga bersama-sama tentunya dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab untuk mengawasi penanganan produk yang mengandung zat adiktif tersebut. Hal ini termasuk pengawasan produksi, peredaran, khususnya bagi anak-anak dan wanita hamil,” jelas Abdul Rochim selaku Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian.

Lebih lanjut, Rochim menyatakan dukungannya terhadap aksi Gaprindo melalui website agar dapat disosialisasikan supaya bisa dibaca oleh semua orang.

“Saya sangat mengapresiasi sekali atas yang disampaikan oleh Pak Moeftie dari Gaprindo dan anggotanya. Peran dari pelaku industri dan peritel dalam mendorong pencegahan perokok anak dapat dijalankan dengan benar dan diterapkan dengan baik. Terlebih lagi, Industri Hasil Tembakau (IHT) juga telah memberikan kontribusi sebesar 10 persen atau Rp 181,7 triliun dalam penerimaan cukai dan pajak. Eskpor komoditas tembakau juga membuat Indonesia menjadi eksportir nomor 6 penyumbang terbesar di dunia,” tambah Rochim.

Melanjutkan soal peran pelaku industri, Atong Soekirman – Asisten Deputi Pengembangan Industri, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menekankan tentang perlunya langkah nyata untuk penurunan angka perokok anak.

“Kegiatan ini menggambarkan upaya nyata bahwa IHT sangat peduli pada produknya melalui perlindungan kepada konsumen yang bukan target pasarnya yaitu anak di bawah umur. Kami menyambut baik komitmen Gaprindo bersama anggota atas peran yang berimbang dari pelaku industri ini sendiri,” tuturnya.

Atong juga menyatakan perlunya memahami tahapan-tahapan dan faktor di balik perilaku merokok pada anak. “Tahapan pertama adalah coba-coba atau melakukan eksperimen. Setelah itu ia mulai menjadi social smoker atau regular smoker yang terbilang belum aktif. Lalu setelah periode berhenti pada fase itu, barulah mereka kembali mengonsumsi. Tahapan ini tentu dilandasi oleh faktor intrinsik dan ektrinsik, sehingga lingkungan keluarga sangat mempengaruhi serta peran sosial juga diperlukan untuk menjauhkan lifestyle “gagah-gagahan” dengan cara lain. Misalnya, dengan membuat lingkungan sekolah bebas rokok,” ungkap Atong.

Pihaknya turut menambahkan bahwa upaya pencegahan ini perlu didukung dengan regulasi seperti roadmap IHT yang dilandasi peninjauan dari berbagai aspek.

“Kementerian Perekonomian mengakomodasi beberapa kepentingan di antaranya masalah industri rokok, revenue, dan isu kesehatan. Sebagai gambaran, bagi Kementerian Perindustrian, tentunya melihat IHT sebagai sektor yang menyerap banyak pekerja serta tingginya APBN yang disediakan rokok minimal 9-10 persen. Kemudian Kementerian Kesehatan memandang hal ini sebagai isu sensitif. Maka dalam menyusun regulasi, kita perlu melihat tiga isu yaitu revenue untuk membiayai anggaran, dan isu kesehatan. Kami pun sudah mengkonfirmasi bahwa concern kita mengenai isu kesehatan adalah untuk mengurangi prevalensi anak di bawah umur,” tambah Atong. (ren)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on linkedin
LinkedIn

Berita Terkait